|
Di musim haji, gema talbiah dari para tamu Allah di tanah wahyu Ilahi yaitu
tanah suci Mekah terdengar dan menyentuh hati. Pada hari-hari ini lautan
umat Islam meneriakkan ucapan Labbaik Allahumma Labbaik, sebuah ucapan yang
dapat melupakan manusia dari hal-hal yang berbau duniawi. Dengan ucapan ini
umat Islam dengan hati khusu' pergi menuju Baitullah, Ka'bah.
Haji adalah pemisahan dari diri untuk menyatu dengan Yang Esa dan mendaki
puncak makrifat. Haji adalah pembebasan jiwa dari berbagai macam noda untuk
kemudian menghiasinya dengan logika dan kelembutan-kelembutan ruhani. Oleh
sebab itu, beruntung sekali orang-orang yang berhasil mendatangi wilayah
malakut di Baitullah, Ka'bah. Karena itu pada hari-hari haji ini suasana
kota Mekah , tanah kelahiran Rasul terakhir, sukar untuk dilukiskan.
Dengan mendengar munajat dan doa-doa para pecinta Allah, dan dengan telah
dekatnya musim haji, maka harapan dan keinginan untuk dapat berziarah ke
Rumah Allah, menjadi hidup di dalam hati setiap Muslim. Bisa dipastikan
bahwa bagi setiap Muslim, perjalanan hati merupakan dambaan hati. Di
hari-hari ini, dua kota suci Mekah dan Madinah menyaksikan pentas-pentas
cinta yang paling indah dan ungkapan hati para peziarah yang berseru "labbaik"
menjawab panggilan hak, dan dengan hati yang dipenuhi cinta Ilahi mereka
berangkat menuju Rumah Allah.
Haji adalah sebuah perjalanan ruhani ke sebuah tempat suci dan terkenal
dengan nama Mekah, yang dilakukan pada bulan Dzul Hijjah dengan tujuan
ziarah ke Rumah Allah, Ka'bah, untuk melaksanakan upacara-upacara khusus,
yang disebut "mansik Haji". Perjalanan agung dan mulia ini merupakan
kewajiban atas setiap Muslim sekali dalam hidupnya, dengan syarat adanya
biaya, kesehatan jasmani dan ruhani, serta tak adanya halangan apapun yang
akan mengganggu perjalanan hajinya.
Bisa dikatakan, bahwa disetiap masyarakat manusia, terdapat saat dan
tempat-tempat khusus untuk pelaksanaan acara-acara ibadah dan pengamalan
ajaran-ajaran maknawi. Ka'bah adalah Rumah Tauhid dan tempat ibadah paling
lama yang dibangun di muka bumi ini. Catatan-catatan sejarah memberikan
kesaksian bahwa pada awalnya, Ka'bah dibangun oleh Nabi Adam Alaihissalam.
Kemudian Ka'bah mengalami kerusakan dalam peristiwa taufan pada masa Nabi
Nuh alaihissalam dan diperbaiki oleh Nabi Ibrahim Alihissalam. Sejak saat
itu Ka'bah selalu menjadi pusat perhatian para penyembah Tuhan yang Maha Esa.
Ka'bah merupakan manifestasi keagungan dan rahmat Allah. Rumah suci ini
adalah monumen sejarah hidup nabi-nabi besar seperti Adam Alaihissalam,
Ibrahim Alaihissalam dan Rasul Allah Muhammad SAWW, serta perjuangan mereka
dalam menyebarkan ajaran-ajaran tauhid kepada seluruh umat manusia. Setiap
Mukmin, ketika berada di hadapan Ka'bah, maka ia akan tenggelam di dalam
keagungan dan keindahan yang Maha Agung, dan seluruh wujudnya akan dikuasai
oleh semangat dan perasaan-perasaan khusus.
Haji adalah sebuah jalan untuk bertaqarrub kepada Allah dan salah satu syiar
terpenting di dalam Islam. Di dalam perjalanan ruhani ini, manusia
meninggalkan segala kelezatan jasmani dan menjauhkan diri dari setiap
kekotoran. Peziarah Rumah Allah, dengan berseru "Labbaik Allahumma Labbaik",
mengungkapakan kerinduan dan kecintaan mereka dari dalam jiwa mereka; lalu
mereka menenggelamkan diri ke dalam doa-doa dan munajat menyampaikan segala
derita yang ia tanggung selama ini, seraya memohon rahmat dan inayah-Nya.
Sesungguhnya, untuk menyatakan penghambaan diri kepada Dzat yang hak, tempat
dan saat yang demikian inilah, saat di mana seseorang berada di dalam Rumah
Allah dan Haram suci pusat keamanan Ilahi, adalah saat dan tempat yang
paling tepat. Karena kapan dan dimana lagi saat dan tempat yang lebih mulia
di banding saat dan tempat yang demikian ini?
Pada musim haji, tempat ini menyaksikan kehadiran umat Islam yang sangat
besar, para peziarah yang melakukan segala bagian dari ibadah tersebut serba
bersama-sama, kompak dan serempak; di dalam pakaian yang sama pula, baik
bentuk dan warnanya. Di tempat yang suci dan di dalam suasana ruhani ini,
satu hal yang teras lebih nyata daripada selainnya ialah saat-saat manis
meraskan curahan rahmat Ilahi, dan kedekatan yang sangat dekat dengan Dzat
yang maha Sempurna. Pada saat-saat semacam ini, segala macam titel dan gelar
serta kelebihan-kelebihan lahiriyah, seakan musnah tak berbekas. Semua yang
ada ialah keikhlasan dan penghambaan diri kepada Dzat yang Maha Agung lagi
Maha Mulia.
Di dalam ibadah haji yang bersifat sangat konstruktif ini, segala macam
egoisme dan kesombongan manusia, yang merupakan akar berbagai macam
kesulitan dan musibah dalam masyarakat tersingkir jauh. Suasana jiwa manusia
pun tersiapkan untuk menuju ke arah kesempurnaan. Hati dan jiwa manusia
pelaksana ibadah haji, dengan terbukanya rantai-rantai keinginan hawa nafsu
yang membelengu, akan memperoleh kekuatan tak terbatas untuk terbang semakin
tinggi, menuju kepada kehidupan yang diinginkan, di dalam suatu ufuk yang
luas serta di dalam udara yang lebih baik dan lebih mulia.
Ibadah haji adalah sebuah kesempatan, dimana seseorang dapat membebaskan
diri dari dirinya sendiri, dan menyatu dengan Dzat yang Mutlak, tempat
bergantung segala sesuatu yang maujud. Sesungguhnya haji adalah suatu ibadah
yang mengandung segala unsur pernyataan diri sebagai hamba. Hal inilah yang
memberikan keagungan kepada ibadah Ilahiyah ini.
Dalam liputan wartawan kami tentang suasana kota suci Mekah di hari-hari
sekarang ini melaporkan: "Ketika kami memasuki kota suci Mekah, di benak
kami terlintas gambaran tentang gurun sahara yang tandus dan panas dimana
Nabi Ibrahim yang hanya disertai istri dan putranya berada di sisi Baitullah.
Namun sekarang kota ini telah menjadi kota yang padat penduduk dan kami
melihat betapa doa nabi Ibrahim AS telah dikabulkan Allah. Sebagaimana yang
tertera dalam Al-Quran Surah Ibrahim ayat 37, saat itu nabi Ibrahim berdoa:
"Ya Tuhan sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah
yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang
dihormati, Ya Tuhan (yang sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat,
maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka (keturunan
Nabi Ibrahim) dan berilah rizki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan
mereka bersyukur."
Sedemikian besar kerinduan kami kepada Baitullah sehingga seolah-oleh degup
hati kami terdengar oleh telinga. Dari atas gunung kami menyaksikan Masjidil
Haram dan lautan manusia berpakaian serba putih bersama-sama menuju Masjidil
Haram. Dari sini kami juga menyaksikan burung-burung merpatai Masjidil Haram
beterbangan di sekitarnya dan sama sekali tidak menunjukkan ras takut kepada
arus manusia. Seolah-olah mereka juga tahu bahwa di sini adalah lembah yagn
diamankan Allah serta temapt berlabuhnya keadilan dan takwa dimana tak
seorangpun berhak mengganggu binatang atau tanaman apapun. Di sini tidak ada
jenis kesombongan dan egoisme. Apa yang ada hanyalah kehormatan,
ketenteraman, persaudaraan dan takwa.
Arus manusia yang datang silih berganti memasuki Masjidil Haram dari
berbagai pintu yang terbuka untuk para tamu Allah dan selintas kemudian
tatapan kami tertuju pada keindahan Ka'bah yang memancarkan keagungan dan
keteguhan ke langit. Tak lama kemudian kami segera bersujud dan memanjatkan
puji syukur atas keagungan dan kebesaranNya."
Ka'bah telah diceritakan sejarah semenjak zaman Nabi Adam AS. Saat nabi Adam
turun ke bumi, Allah SWT telah meletakkan kubah di tempat dimana Ka'bah
sekarang berada agar kubah ini dijadikan tempat bertawaf oleh Nabi Adam.
Kubah itu terus ada hingga zaman Nabi Nuh AS dan setelah itu tempat tersebut
dijadikan tempat tawaf para Nabi. Ketika sampai pada zaman Nabi Ibrahim AS,
Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim agar membangun Ka'bah di tempat itu dan
sejak itu hingga sekitar 4 ribu tahun tak ada satupun peristiwa yang dapat
mengurangi keagungan dan kesucian Baitullah ini. Pada Ka'bah terdapat
pemandangan yang dapat membangkitkan jiwa pengabdian dan kecintaan kepada
yang Esa.
Baitullah Ka'bah adalah pusat segala wujud semesta dan manusia sebagai
wujud-wujud yang lain berasal dari Allah SWT dan tak ada orientasi kecuali
Allah SWT. Para tamu Allah dengan semangat cinta yang luar biasa di sekitar
Baitullah telah mejadi ibarat laron-laron (kalkatu) yang mengelilingi lilin.
Dan dengan gelora jiwa yang tak dapat dilukiskan mereka menyampaikan
munajatnya kepada Allah SWT.
Dalam hal ini wartawan kami menyatakan sebagai berikut:
"Hari ini dimana kami menyaksikan Ka'bah dari tempat yang tertinggi di
Masjidil Haram kami mengetahui rahasia diamnya lembaga-lembaga informasi dan
mass media untuk tidak merefleksikan ibadah besar haji umat Islam. Di sini,
bukanlah tempat atau bangunan yang menjadi tempat mencurahkan cinta. Lautan
manusia ini bukanlah karena tradisi atau kebiasaan memutari fokus tauhid
melainkan karena dorongan logika akal dan kehendak untuk bertawaf kepada
Tuhan Sang Pencipta alam. Seorang pelaksana ibadah haji harus tahu untuk apa
mereka mengelilingi Ka'bah. Dengan kehendaknya, ia harus berdiri di atas
kaki sendiri agar ia berada dalam orientasi tauhid dan jika ada desakan
orang yang mendorong punggungnya saat tawaf, maka tawafnya akan batal."
"Dewasa ini dimana berbagai negara berusaha membangun istana-istana dan
bangunan-bangunan termegah serta dengan kekerasan dan penipuan berusaha
memperoleh popularitas dan untuk masalah terkecil pun mereka menggelar
konferensi dan seminar, akan tetapi mereka sama sekali tidak melontarkan
sedikitpun kata-kata untuk mengungkapkan kesan-kesan ibadah besar haji yang
mengandung nuansa pengabdian, politik dan sosial umat Islam ini. Sebab
mereka tahu betul betapa dalamnya pengaruh ibadah ini dalam menentukan garis
nasib manusia.
"Rahasia Ka'bah tidak bisa dilukiskan dengan lidah melainkan dengan hati.
Pada saat dimana lautan manusia, baik yang berkulit hitam maupun putih dan
memiliki aneka ragam bahasa mendirikan solat di depan Baitullah dan engkau
pun dapat menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, engkau hanya bisa khusu'
dan merendah diri di depan Sang Pemilik rumah ini, kemudian engaku ambil
cahaya yang tertinggi dan bertasbihlah."
"Keagungan dan kemuliaan Ka'bah ada pada keagungan dan kebesaran Sang
Pencipta dan yang mengatur segala wujud semesta, sebagaimana yang ditegaskan
oleh Al-Quranul Karim di bagian terakhir surah Al-Hasyr yang artinya: "Dialah
Allah yang menciptakan, yang mengadakan, Yang membentuk rupa, Yang mempunyai
nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan
di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Imam Khomeini (r.a) berkenaan ibadah haji berkata: "Berkumpulnya manusia
mengelilingi Ka'bah menunjukkan bahwa selain Allah janganlah kalian
berkumpul mengelilinginya. Tawaf memutari Ka'bah yang menunjukkan cinta
kepada Yang Hak, mengajarkan kepada kita untuk membersihkan hati kita dari
selain-Nya, dan tidak takut kepada apapun selain-Nya. Sa'i antara Safa dan
Marwa mengajarkan agar kita berusaha menuju ke arah kekasih yang kita cintai,
yaitu Allah SWT, dengan ketulusan dan kebersihan hati. Karena dengan menuju
dan memperoleh kedekatan kepada-Nya, maka segala macam persoalan duniawi
akan hilang sirna. Segala keraguan dan kebimbangan pun akan musnah. Demikian
pula segala bentuk ketergantungan kepada hal-hal yang bersifat materi.
Sekali lagi kota Nabi, Madinah al-Munawwarah dipadati oleh umat Islam yang
merindukan ziarah ke puasara Rasul. Kota Madinah adalah kota yang
menghidupkan kenangan tentang perjuangan, jihad dan pengorbanan umat Islam
di sisi Rasul untuk menegakkan Kalimatullah dan keadilan. Kota inilah yang
menyimpan kenagan dari perjuangan Rasul dan para sahabatnya seperti Imam Ali
bin Abi Talib dan Sayyidina Hamzah. Menyusuri kota madinah, seolah-olah
semua penjuru menyampaikan kata-kata dan mengisahkan kepada kita tentang
jerih-payah, cobaan dan pengorbanan Rasul serta para pengikutnya untuk
mengangkat manusia dari jurang kebodohan dan kesesatan.
Lautan peziarah Baitullah singgah ke kota Madinah untuk mendatangi sebuah
tempat dimana tubuh manusia yang paling sempurna dan suci berbaring.
Masjidunnabi, dimana pusara Rasul berada, menyaksikan lautan umat yang
berada di wilayah suci dan mengenang perjuangan dan ibadah Rasul yang
sedemikian ikhlas. Kota madinah sekarang ini tampak ceria menyambut
tamu-tamu yang mendambakan kedekatan di sisi Allah. Umat Islam yang
berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk menunaikan ibadah haji di tanah
Hijaz senantiasa singgah ke Madinah, baik itu sebelum menunaikan manasik
haji atau setelahnya. Sebab tidaklah mungkin seseorang disebut peziarah
Baitullah namun tidak berziarah ke utusan Allah yang terakhir, yaitu Nabi
Besar Muhammad SAWW.
Setelah munculnya Islam, saat Rasul mendapat penentangan keras orang-orang
kafir di Mekah, beliau mengambil keputusan untuk hijrah ke Madinah untuk
menunaikan risalahnya. Hijrah Rasul ke Madinah merupakan sebuah peristiwa
penting dalam sejarah Islam. Setelah menetap di Madinah, di bangun sebuah
masjid pertama untuk memantapkan posisi dan keberadaan umat Islam. Masjid
ini diberi nama Masjid Nabawi. Masjid ini menjadi basis perkembangan Islam
serta tempat untuk menyelesaikan urusan agama dan sosial umat Islam.
Para peziarah Baitullah saat singgah di Madinah dan berada disekitar pusara
Rasul merasakan seolah-olah Rasul membacakan ayat-ayat Al-Quran yang
menyinggung rahmat dan ampunan (maghfirah) Ilahi dan seolah-olah Rasul
sedang menyeru mereka agar bertakwa dan menempuh jalan yang lurus. Dan
termasuk saat-saat Rasul yang paling indah ialah ketika beliau menebarkan
senyum keridhaan dan mengusap-usapkan telapak tangannya di kepala anak-anak
yatim. Kota Madinah juga menyimpan kisah-kisah tentang keteguhan dan
keberanian Rasul di depan orang-orang kafir dan zalim. Pada saat beliau
melihat adanya bahaya atau ancaman musuh, beliau mengeluarkan perintah untuk
melakukan perlawanan. Dan dengan terjun langsung ke medan laga, beliau telah
menjadi tempat berlindung para mujahidin dalam keadaan yang paling sulit.
Para peziarah Baitullah, dengan mengingat kancah-kancah ini dan dalam
keadaan dirinya dipenuhi dengan rasa cinta kepada kebenaran dan keadilan,
berjanji kepada Allah untuk menerapkan ajaran Islam dan mengikuti jejak
Rasul dan Ahlul Baitnya. Daya tarik perilaku Rasul yang merupakan rahmat
bagi penghuni alam semesta sedemikian kuatnya sehingga seseorang, tanpa
disadari bisa meminta kepada Allah agar perilakunya diserupakan dengan
perilaku Rasul.
Para peziarah makam suci Rasul, ketika berziarah berjanji untuk tidak
melakukan perbuatan yang dilarang oleh syariat dan berusaha berbuat baik.
Mereka juga berjanji akan berusaha membantu orang yang memerlukan
pertolongan dan sebaliknya akan melawan orang-orang zalim dan penindas. Jika
ada hak-hak orang yang diinjak-injak, mereka akan berusaha memperjuangkannya.
Dengan semangat jiwa seperti ini dan pada saat dadanya terbuka lebar untuk
menerima segala kesempurnaan akhlak dan kesucian, mereka datang menuju
Baitullah untuk menunaikan manasik-mansik haji dan memperlihatkan kepada
Allah manifestasi pengabdian dan ibadahnya dengan bentuk yang terindah.
Para peziarah Baitullah di kota Madinah juga tak akan lupa berziarah ke
pemakaman Baqi' dimana beberapa orang dari Ahlul Bait dan sahabat besar
Rasul dibaringkan. Diantara acara ibadah yang paling mengharukan setiap
tahun di kota Madinah ialah pembacaan sebuah doa panjang yang kerap dibaca
oleh Imam Ali, yaitu Doa Kumail. Sebuah doa yang memuat rintihan, pengaduan,
pernyataan berdosa, pujian kepada Allah dan permohonan ampun kepada Allah.
Acara ini biasa dilakukan jemaah haji dan peziarah dari Iran yang kemudian
dihadiri pula oleh para peziarah dari negara-negara lain.
Mengenai acara-acara ritual pada musim haji tahun ini, wartawan kami antara
lain melaporkan sebagai berikut:
"Pada tahun ini, kota Madinah juga menyaksikan penyelenggaraan acara
pembacaan Doa Kumail dalam suasana spiritual dan ruhani yang penuh. Setelah
menunaikan solat jamaah dalam saf-saf kebersamaan, para pecinta Rasul dan
Ahlul Baitnya telah memarakkan kota Madinah dengan alunan doa dan pujian.
Sedemikian maraknya suasana keruhanian di kota Madinah sehingga seolah-olh
terdengar suara sayap-sayap para Malaikat yang datang dan pergi menghadap
Rasul. Dan yang paling menarik dalam acara-acara ini ialah pembacaan doa dan
munajat umat Islam demi pembebasan Al-Quds dan umat Islam Palestina yang
teraniaya. Kepekaan umat Islam di saat haji terhadap masalah Palestina dan
nasib seluruh umat Islam di Afghanistan, Tajikistan, Bosnia dan berbagai
penjuru dunia lainnya merupakan manifestasi dari nuansa politik haji serta
menunjukkan adanya rasa tanggungjawab umat Islam terhadap nasib
saudara-saudara mereka."
"Suasana ikhlas, tulus dan ketertiban para pembaca doa dari Iran ini telah
menarik perhatian para peziarah dari negara lain. Nonya Zainah dari Belgia
saat menyaksikan acara pembacaan doa Kumail yang sangat mengharukan ini
mengungkapkan: "Sungguh, di sini seseorang akan merasakan kebenaran umat
Islam. Acara-acara ini benar-benar menghidupkan semangat pengabdian pada
jiwa manusia yang mana inilah tujuan dari haji."

|