|
Penulis: KH
Abdullah Gymnastiar
Bismillahirrahmaanirrahiim,
Suatu hal yang
pasti tidak akan luput dari keseharian kita adalah yang disebut masalah atau
persoalan hidup, dimanapun, kapanpun, apapun dan dengan siapapun, semuanya
adalah potensi masalah. Namun andaikata kita cermati dengan seksama ternyata
dengan persoalan yang persis sama, sikap orangpun berbeda-beda, ada yang begitu
panik, goyah, kalut, stress tapi ada pula yang menghadapinya dengan begitu
mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya.
Berarti masalah
atau persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada persoalannya melainkan pada
sikap terhadap persoalan tersebut. Oleh karena itu siapapun yang ingin menikmati
hidup ini dengan baik, benar, indah dan bahagia adalah mutlak harus
terus-menerus meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya dalam menghadapi aneka
persoalan yang pasti akan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya seiring
dengan pertambahan umur, tuntutan, harapan, kebutuhan, cita-cita dan tanggung
jawab.
Kelalaian kita
dalam menyadari pentingnya bersungguh-sungguh mencari ilmu tentang cara
menghadapi hidup ini dan kemalasan kita dalam melatih dan mengevaluasi
ketrampilan kita dalam menghadapi persoalan hidup berarti akan membuat hidup ini
hanya perpindahan kesengsaraan, penderitaan, kepahitan dan tentu saja kehinaan
yang bertubi-tubi. Na'udzubillah.
1. Siap
Siap apa? Siap
menghadapi yang cocok dengan yang diinginkan dan siap menghadapi yang tidak
cocok dengan keiinginan.
Kita memang
diharuskan memiliki keiinginan, cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam
hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun
yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah Swt berikan
kepada kita.
Namun bersamaan
dengan itu kitapun harus sadar-sesadarnya bahwa kita hanyalah makhluk yang
memiliki sangat banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak
terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita.
Dan pula dalam
hidup ini ternyata sering sekali atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang
tidak terjangkau oleh kita, yang di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk
mencegahnya, andaikata kita selalu terbenam tindakan yang salah dalam
mensikapinya maka betapa terbayangkan hari-hari akan berlalu penuh kekecewaaan,
penyesalan, keluh kesah, kedongkolan, hati yang galau, sungguh rugi padahal
hidup ini hanya satu kali dan kejadian yang tak didugapun pasti akan terjadi
lagi.
Ketahuilah kita
punya rencana, Allah Swt pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa
yang menjadi rencana Allah Swt.
Yang lebih lucu
serta menarik, yaitu kita sering marah dan kecewa dengan suatu kejadian namun
setelah waktu berlalu ternyata "kejadian" tersebut begitu menguntungkan dan
membawa hikmah yang sangat besar dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa
yang diharapkan sebelumnya.
Alkisah ada dua
orang kakak beradik penjual tape, yang berangkat dari rumahnya di sebuah dusun
pada pagi hari seusai shalat shubuh, di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulan
sang kakak berderak patah, pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di
sebelah kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat sial,
jualan belum, untung belum bahkan modalpun habis terbenam, dengan penuh
kemurungan mereka kembali ke rumah. Tapi dua jam kemudian datang berita yang
mengejutkan, ternyata kendaraan yang biasa ditumpangi para pedagang tape terkena
musibah sehingga seluruh penumpangnya cedera bahkan diantaranya ada yang cedera
berat, satu-satunya diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan
angkutan tersebut yang selamat hanyala dirinya, yang tidak jadi berjualan karena
pikulannya patah. Subhanalloh, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap
kesialan besar, dua jam kemudian patah pikulan dianggap keberuntungan luar biasa.
Oleh karena itu
"fa idzaa azamta fa tawaqqal alalloh" bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar namun
hati harus tetap menyerahkan segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah
Swt. Dan siapkan mental kita untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu
Allah Swt.
Allah Swt,
berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 216, "Boleh jadi engkau tidak
menyukai sesuatu padahal bagi Allah Swt lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau
menyukai sesuatu padahal buruk dalam pandangan Allah Swt."
Maka jikalau
dilamar seseorang, bersiaplah untuk menikah dan bersiap pula kalau tidak jadi
nikah, karena yang melamar kita belumlah tentu jodoh terbaik seperti yang
senantiasa diminta oleh dirinya maupun orang tuanya. Kalau mau mengikuti Ujian
Masuk Perguruan Tinggi Negeri, berjuanglah sungguh-sungguh untuk diterima di
tempat yang dicita-citakan, namun siapkan pula diri ini andaikata Allah Yang
MahaTahu bakat, karakter dan kemampuan kita sebenarnya akan menempatkan di
tempat yang lebih cocok, walaupun tidak sesuai dengan rencana sebelumnya.
Melamar kerja,
lamarlah dengan penuh kesungguhan, namun hati harus siap andaikata Allah Swt,
tidak mengijinkan karena Allah Swt, tahu tempat jalan rizki yang lebih berkah.
Berbisnis ria,
jadilah seorang profesional yang handal, namun ingat bahwa keuntungan yang besar
yang kita rindukan belumlah tentu membawa maslahat bagi dunia akhirat kita, maka
bersiaplah menerima untung terbaik menurut perhitungan Allah Swt. Demikianlah
dalam segala urusan apapun yang kita hadapi.
2.Ridha
Siap menghadapi
apa pun yang akan terjadi, dan bila terjadi, satu-satunya langkah awal yang
harus dilakukan adalah mengolah hati kita agar ridha/rela akan kenyataan yang
ada. Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan dan kecewa berat,
tetap saja kenyataan itu sudah terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak, kejadian
itu tetap sudah terjadi. Maka, lebih baik hati kita ridha saja menerimanya.
Misalnya, kita
memasak nasi, tetapi gagal dan malah menjadi bubur. Andaikata kita muntahkan
kemarahan, tetap saja nasi telah menjadi bubur, dan tidak marah pun tetap bubur.
Maka, daripada marah menzalimi orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat
hati mendidih, lebih baik pikiran dan tubuh kita disibukkan pada hal yang lain,
seperti mencari bawang goreng, ayam, cakweh, seledri, keripik, dan kecap supaya
bubur tersebut bisa dibuat bubur ayam spesial. Dengan demikian, selain perasaan
kita tidak jadi sengsara, nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.
Kalau kita
sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada batu kecil nyasar entah dari mana dan mendarat
tepat di kening kita, hati kita harus ridha, karena tidak ridha pun tetap benjol.
Tentu saja, ridha atau rela terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah total
sehingga tidak bertindak apa pun. Itu adalah pengertian yang keliru. Pasrah/ridha
hanya amalan, hati kita menerima kenyataan yang ada, tetapi pikiran dan tubuh
wajib ikhtiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah Swt.
Kondisi hati yang tenang atau ridha ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi
positif, optimal, dan bermutu.
Orang yang
stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental untuk menerima kenyataan
yang ada. Selalu saja pikirannya tidak realistis, tidak sesuai dengan kenyataan,
sibuk menyesali dan mengandai - andai sesuatu yang sudah tidak ada atau tidak
mungkin terjadi. Sungguh suatu kesengsaraan yang dibuat sendiri.
Misalkan tanah
warisan telah dijual tahun yang lalu dan saat ini ternyata harga tanah tersebut
melonjak berlipat ganda. Orang-orang yang malang selalu saja menyesali mengapa
dahulu tergesa-gesa menjual tanah. Kalau saja mau ditangguhkan, niscaya akan
lebih beruntung. Biasanya, hal ini dilanjutkan dengan bertengkar saling
menyalahkan sehingga semakin lengkap saja penderitaan dan kerugian karena
memikirkan tanah yang nyata-nyata telah menjadi milik orang lain.
Yang berbadan
pendek, sibuk menyesali diri mengapa tidak jangkung. Setiap melihat tubuhnya ia
kecewa, apalagi melihat yang lebih tinggi dari dirinya. Sayangnya, penyesalan
ini tidak menambah satu senti pun jua. Yang memiliki orang tua kurang mampu atau
telah bercerai, atau sudah meninggal sibuk menyalahkan dan menyesali keadaan,
bahkan terkadang menjadi tidak mengenal sopan santun kepada keduanya,
mempersatukan, atau menghidupkannya kembali. Sungguh banyak sekali kita temukan
kesalahan berpikir, yang tidak menambah apa pun selain menyengsarakan diri.
Ketahuilah,
hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Ini adalah kenyataan
hidup, kenanglah perjalanan hidup kita yang telah lalu dan kita harus
benar-benar arif menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin, dan
hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan keluh kesah karena semua itu tidak
menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi memperparah masalah.
Dengan demikian,
hati harus ridha menerima apa pun kenyataan yang terjadi sambil ikhtiar
memperbaiki kenyataan pada jalan yang diridhai Allah swt. *** (bersambung,
bagian 1 dari 2 tulisan)
Lima
Kiat Praktis Menghadapi Persoalan Hidup (2)
Penulis: KH
Abdullah Gymnastiar
3. Jangan
Mempersulit Diri
Andaikata kita
mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan
mempersulit diri. Sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi
perasaan dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat
masalah akan menjadi lebih besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih
gawat, lebih pilu daripada kenyataan yang aslinya, Tentu pada akhirnya kita akan
merasa jauh lebih nelangsa, lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya.
Orang yang
menghadapi masa pensiun, terkadang jauh sebelumnya sudah merasa sengsara.
Terbayang di benaknya saat gaji yang kecil, yang pasti tidak akan mencukupi
kebutuhannya. Padahal, saat masih bekerja pun gajinya sudah pas-pasan. Ditambah
lagi kebutuhan anak-anak yang kian membengkak, anggaran rumah tangga plus
listrik, air, cicilan rumah yang belum lunas dan utang yang belum terbayar.
Belum lagi sakit, tak ada anggaran untuk pengobatan, sementara umur makin menua,
fisik kian melemah, semakin panjang derita kita buat, semakin panik menghadapi
pensiun. Tentu saja sangat boleh kita memperkirakan kenyataan yang akan terjadi,
namun seharusnya terkendali dengan baik. Jangan sampai perkiraan itu membuat
kita putus asa dan sengsara sebelum waktunya.
Begitu banyak
orang yang sudah pensiun ternyata tidak segawat yang diperkirakan atau bahkan
jauh lebih tercukupi dan berbahagia daripada sebelumnya. Apakah Allah SWT. yang
Mahakaya akan menjadi kikir terhadap para pensiunan, atau terhadap kakek-kakek
dan nenek-nenek? Padahal, pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus
dijalani, yang tidak mempengaruhi janji dan kasih sayang Allah.
Maka, di dalam
menghadapi persoalan apa pun jangan hanyut tenggelam dalam pikiran yang salah.
Kita harus tenang, menguasai diri seraya merenungkan janji dan jaminan
pertolongan Allah Swt. Bukankah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat
sulit dan ternyata pada akhirnya bisa lolos?
Yakinlah bahwa
Allah yang Mahatahu segalanya pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita
sesuai dengan dosis yang tepat dengan keadaan dan kemampuan kita. "Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan sesudah kesulitan
itu pasti ada kemudahan" (QS Al-Insyirah [94]:5-6). Sampai dua kali Allah Swt
menegaskan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus mendapatkan
kesulitan karena dunia bukanlah neraka. Demikian juga tidak mungkin dalam hidup
ini terus menerus memperoleh kelapangan dan kemudahan karena dunia bukanlah
surga. Segalanya pasti akan ada akhirnya dan dipergilirkan dengan keadilan Allah
Swt.
4. Evaluasi Diri
Ketahuilah,
hidup ini bagaikan gaung di pegunungan: apa yang kita bunyikan, suara itu
pulalah yang akan kembali kepada kita. Artinya, segala yang terjadi pada kita
adalah buah dari apa yang kita lakukan. "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan
seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang
mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya
pula" (QS Al-ZalZalah [99]: 7-8)
Allah Swt Maha
Peka terhadap apapun yang kita lakukan. Dengan keadilan-Nya tidak akan ada yang
meleset, siapa pun yang berbuat, sekecil dan setersembunyi apapun kebaikan,
niscaya Allah Swt, akan membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yang terbaik
menurut-Nya. Sebaliknya, kezaliman sehalus apapun yang kita lakukan yang
tampaknya seperti menzalimi orang lain, padahal sesungguhnya menzalimi diri
sendiri, akan mengundang bencana balasan dari Allah Swt, yang pasti lebih getir
dan gawat. Naudzubillah.
Andaikata ada
batu yang menghantam kening kita, selain hati harus ridha, kita pun harus
merenung, mengapa Allah menimpakan batu ini tepat ke kening kita, padahal
lapangan begitu luas dan kepala ini begitu kecil? Bisa jadi semua ini adalah
peringatan bahwa kita sangat sering lalai bersujud, atau sujud kita lalai dari
mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, pasti segalanya
ada hikmahnya.
Dompet hilang?
Mengapa dari satu bus, hanya kita yang ditakdirkan hilang dompet? Jangan sibuk
menyalahkan pencopet karena memang sudah jelas ia salah dan memang begitu
pekerjaannya. Renungkankah: boleh jadi kita ini termasuk si kikir, si pelit, dan
Allah Mahatahu jumlah zakat dan sedekah yang dikeluarkan. Tidak ada kesulitan
bagi-Nya untuk mengambil apapun yang dititipkan kepada hamba-hamba-Nya.
Anak nakal,
suami kurang betah di rumah dan kurang mesra, rezeki seret dan sulit, bibir
sariawan terus menerus, atau apa saja kejadian yang menimpa dan dalam bentuk
apapun adalah sarana yang paling tepat untuk mengevaluasi segala yang terjadi.
Pasti ada hikmah tersendiri yang sangat bermanfaat, andaikata kita mau
bersungguh-sungguh merenunginya dengan benar.
Jangan terjebak
pada sikap yang hanya menyalahkan orang lain karena tindakan emosional seperti
ini hanya sedikit sekali memberi nilai tambah bagi kepribadian kita. Bahkan,
apabila tidak tepat dan berlebihan, akan menimbulkan kebencian dan masalah baru.
Ketahuilah
dengan sungguh-sungguh, dengan mengubah diri, berarti pula kita mengubah orang
lain. Camkan bahwa orang lain tidak hanya punya telinga, tetapi mereka pun
memiliki mata, perasaan, pikiran yang dapat menilai siapa diri kita yang
sebenarnya.
Jadikanlah
setiap masalah sebagai sarana efektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri
karena hal itulah yang menjadi keuntungan bagi diri dan dapat mengundang
pertolongan Allah Swt.
5. Hanya Allah-lah
Satu satunya Penolong
Sesungguhnya
tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan izin Allah Swt. Baik berupa musibah
maupun nikmat. Walaupun bergabung jin dan manusia seluruhnya untuk mencelakakan
kita, demi Allah tidak akan jatuh satu helai rambut pun tanpa izin-Nya. Begitu
pun sebaliknya, walaupun bergabung jin dan manusia menjanjikan akan menolong
atau memberi sesuatu, tidak pernah akan datang satu sen pun tanpa izin-Nya.
Mati-matian kita
ikhtiar dan meminta bantuan siapapun, tanpa izin-Nya tak akan pernah terjadi
yang kita harapkan. Maka, sebodoh-bodoh kita adalah orang yang paling berharap
dan takut kepada selain Allah Swt. Itulah biang kesengsaraan dan biang
menjauhnya pertolongan Allah Swt.
Ketahuilah,
makhluk itu "La haula wala quwata illa billahil' aliyyil ' azhim" tiada daya dan
tiada upaya kecuali pertolongan Allah Yang MahaAgung. Asal kita hanyalah dari
setetes sperma, ujungnya jadi bangkai, ke mana-mana membawa kotoran.
Allah
menjanjikan dalam Surah Al-Thalaq ayat 2 dan 3, "Barang siapa yang
bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa), niscaya Dia akan mengadakan
baginya jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi rezeki dari tempat
yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal hanya kepada Allah,
niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya."
Jika kita
menyadari dan meyakininya, kita memiliki bekal yang sangat kukuh untuk
mengarungi hidup ini, tidak pernah gentar menghadapi persoalan apapun karena
sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita yang sebenarnya
berikut segala jalan keluar terbaik hanyalah Allah Swt Yang Mahasempurna. Dia
sendiri berjanji akan memberi jalan keluar dari segala masalah, sepelik dan
seberat apapun karena bagi Dia tidak ada yang rumit dan pelik, semuanya serba
mudah dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Pendek kata,
jangan takut menghadapi masalah, tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan
Allah dalam menghadapinya. Tanpa pertolongan-Nya, kita akan terus berkelana
dalam kesusahan, dari satu persoalan ke persoalan lain, tanpa nilai tambah bagi
dunia dan akhirat kita・benar-benar
suatu kerugian yang nyata.
Terimalah ucapan
selamat berbahagia, bagi saudara-saudaraku yang taat kepada Allah dan semakin
taat lagi ketika diberi kesusahan dan kesenangan, shalatnya terjaga, akhlaknya
mulia, dermawan, hati bersih, dan larut dalam amal-amal yang disukai Allah.
InsyaAllah,
masalah yang ada akan menjadi jalan pendidikan dan Allah yang akan semakin
mematangkan diri, mendewasakan, menambah ilmu, meluaskan pengalaman,
melipatgandakan ganjaran, dan menjadikan hidup ini jauh lebih bermutu, mulia,
dan terhormat di dunia akhirat.
Semoga, dengan
izin Allah, uraian ini ada manfaatnya. *** (Bagian terakhir dari 2 tulisan)
Indahnya
Hidup Merdeka (2)
Penulis: Aa Gym
3. Tidak
Diperbudak Asmara
Salah satu yang
memperindah dan menghiasi hidup kita adalah cinta. Tapi kita lihat ada orang
yang dikutuk orang tuanya, bahkan terjerumus ke lembah nista dalam
perbuatan-perbuatan yang hina justru karena cinta --tentu cinta buta-- yang
membuat tidak bisa melihat kebenaran.
Waspadalah
saudaraku, jatuh cinta ibarat memasuki sebuah pusaran air, kalau tidak hati-hati
semakin cinta semakin membelenggu, semakin hanyut, berkurang rasa malu, dan
membara nafsu yang akhirnya menyengsarakan dunia akhirat, kecuali cinta di jalan
Allah.
Jatuh cinta
ibarat memasukkan ayam kampung ke kamar, akan sulit mengusirnya. Kalaupun susah
payah mengusir, maka kamar akan berantakan. Begitulah orang-orang yang dilanda
asmara dan tidak sungguh-sungguh menjaga diri.
Oleh karena itu
jauhilah percintaan yang tidak disukai dan tidak di jalan Allah. Milikilah cinta
yang asli karena Allah yang caranya betul-betul menegakkan apapun yang diaturkan
dalam agama. Percayalah, rambu-rambu yang diberikan oleh Allah akan membuat diri
kita tidak diperdaya oleh cinta yang tampaknya indah padahal bisa jadi
menjerumuskan, na置zubillahi
mindzalik. Berlindunglah kepada Allah supaya kita tidak diperbudak oleh asmara
buta.
泥an,
adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (Q.S
An-Nazi誕t
[79] : 40-41)
4. Orang yang
Jujur
Saudaraku,
setiap kali berbohong maka bohong itu akan menjadi penjara bagi kita. Kita akan
selalu was-was, takut diketahui kebohongan (kedustaan) kita yang mengharuskan
kita berbuat bohong lanjutannya. Dan bohong itu pun tentu akan menjadi penjara
baru. Demikianlah kurang lebih bagi orang-orang yang berdusta, berbohong atau
tidak jujur dalam hal apapun.
Tidak akan
merdeka orang-orang yang tidak menjaga dirinya dari kedustaan dan ketidakjujuran.
Rasulullah bersabda, 典idak
ada akhlak yang paling dibenci Rasulullah, lebih dari bohong. Apabila beliau
melihat seseorang bohong dari segi apa saja, maka orang itu tidak keluar dari
perasaan hati Rasulullah sehingga beliau tahu bahwa orang itu telah bertaubat.・/i>
(H. R. Ahmad)
Pastikanlah kita
menjadi orang yang menikmati hidup jujur. Semakin sedikit rahasia semakin
merdeka hidup ini. Semakin tidak mengenal dusta, semakin tidak terancam diri ini.
Tak ada yang membuat kita takut harus diketahui aib dan kebohongan oleh orang
lain karena memang kita tidak menyembunyikan sesuatu.
Lebih baik kita
disisihkan karena kita jujur daripada kita diterima karena berdusta, berarti
sepanjang waktu kita akan penuh ketegangan. Selamat berbahagi bagi saudara yang
berjuang menjadi pribadi yang jujur terpercaya karena itulah milik orang-orang
yang merdeka dan jujur.
5. Orang yang
Tawadhu
Rendah hati
adalah kunci kebahagiaan. Semakin kita ingin dihargai, semakin ingin dihormati,
semakin ingin dipuji, semakin ingin diperlakukan lebih, maka semakin sengsara
hidup ini, karena kita semakin butuh kepada orang lain. Padahal orang lain belum
tentu sesuai keinginannya dengan kita.
Orang yang
rendah hati, pikirannya adalah justru ingin melihat orang lain lebih berhak
untuk dihargai, lebih berhak untuk dihormati, dan tidak melihat orang lain lebih
rendah dari dirinya.
Sebagaimana yang
difirmankan oleh Allah, 泥an
hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata yang baik・
(Q.S. Al Furqaan [25] : 28). Ketawadhuan tidak akan pernah menghinakan, bahkan
sebaliknya akan mengangkat derajat seseorang.
Adalah mimpi
kita bahagia jikalau kita menjadi orang yang sombong dan takabur. Sabda
Rasulullah, 典iada
masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.・/i>
(H.R Muslim). Kebahagiaan dan kemerdekaan adalah milik orang-orang yang rendah
hati.
6. Orang yang
Ikhlas
Ikhlas adalah
kunci kemerdekaan hati. Orang-orang yang ria yang hidupnya tamak akan pujian
akan menjadi korban mode dan korban jaman. Tetapi orang-orang yang ikhlas tidak
pusing dengan penilaian manusia. Yang dia pikirkan adalah selalu memikirkan yang
terbaik, dan puas dengan penilaian Allah Yang Maha Dekat serta ganjaran dari
Allah yang melimpah dan tidak mengecewakan.
Rasulullah
bersabda, 鄭llah
tidak menerima amalan, melainkan amalan yang ikhlas dan yang karena untuk
mencari keridhaan Allah.・/i>
(H. R. Ibnu Majah)
Wahai saudaraku
yang baik, marilah kita nikmati menjadi orang yang tidak terpengaruh oleh
kerinduan dipuji orang lain. Pujian orang hanyalah tipu daya bagi kita, cobaan
yang membuat kita sering menipu diri padahal kita tidak layak dipuji.
Tapi pujian dari
Allah akan menyelamatkan kita dunia akhirat. Karena Allah yang menggenggam
setiap rezeki, kedudukan, kemuliaan, bahkan nikmat dunia akhirat. Untuk apa kita
dipuji makhluk yang pasti binasa. Lebih baik puaskan diri ingin dipuji Allah,
itulah yang membuat kita merdeka dalam hidup ini.
7. Orang yang
Tawakal
Semakin banyak
bergantung kepada sesuatu maka kita akan takut kehilangan sesuatu. Seperti orang
yang bersandar di kursi akan takut kursinya diambil. Tetapi bergantung kepada
Allah, itulah yang akan memuaskan karena Allah menggenggam segala yang kita
butuhkan. Allah Maha Tahu masalah kita, Allah Maha Tahu segala jalan keluar dari
kesulitan kita, dan Allah-lah yang kuasa atas segala-galanya.
Dan orang yang
bertawakal, dicukupi kebutuhannya oleh Allah Yang Maha Tahu kebutuhan kita.
Allah berfirman, ・..Dan
barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan
keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.・
(Q.S Ath Thalaaq [65] : 3)
Sahabat-sahabatku yang budiman, untuk apa kita bergantung kepada manusia.
Makhluk adalah lemah tiada daya dan tidak bisa memberi manfaat bagi kita tanpa
izin Allah dan juga tidak bisa memberikan mudharat.
Marilah kita
puaskan diri kita, ikhtiar kita, dan ketawakalan kita. Gigihnya ikhtiar jangan
mencuri hati dari tawakkal kepada Allah. Yakinnya kepada Allah jangan pernah
mengurangi ikhtiar kita, itulah orang-orang yang akan menikmati kemerdekaan
dalam hidup ini. Akhlaknya jadi mulia dan indah kalau setiap perilakunya bisa
menjadi amal shaleh yang menjadi bekal kebahagiaan dunia dan menjadi bekal
perjumpaan dengan Allah Azzawajalla.
Sekali merdeka
tetap merdeka. Sekali menjadi hamba Allah selama-lamanya hanyalah untuk mengabdi
kepada Allah. Wallahua値am.***(bagian
terakhir dari 2 tulisan)
Rangkuman
Pengajian Majeis Manajemen Qolbu, Masjid Istiqlal 15 September 2002
Rendah
Hati
Sumber: Abdullah
Gymnastiar
Bismillahirrahmanirrahiim
Kajian Kitab Al-Hikam
(Karya Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah)
Bab: Rendah
Hati
Andaikata kita
benar-benar bisa menempatkan diri secara tepat sekali dalam hidup ini, niscaya
hidup akan lebih ringan, lebih indah, dan lebih barokah. Sayang kita kadang
tidak cukup waktu untuk mengenal diri sehingga kita merasa lebih dari kenyataan
atau merasa lebih rendah dari karunia yang Allah berikan. Setidaknya inilah
hikmah yang akan kita simak dalam kajian kitab Hikam kali ini.
"Tanamlah dirimu
dalam tanah kerendahan. Sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak di tanam,
maka tidak sempurna hasil buahnya."
Rasulullah SAW
bersabda, "Siapa yang merendah diri, maka Allah akan memuliakannya. Dan siapa
yang sombong, besar diri, Allah akan menghinanya."
Saudaraku, akar
yang menghujam ke dalam tanah membuat pohon kian kokoh. Tapi pohon yang akarnya
jauh dari tanah, disiram air, pohon bisa rontok. Makin kokoh menghujam, dihempas
badai, diterjang topan, ditiup angin, tidak goyah. Tampaknya, orang-orang yang
benar-benar menikmati hidup buah dari amal adalah orang yang tawadhu;
orang-orang yang rendah hati.
Saudara-saudaraku, banyak beramal tidak berarti langsung selamat. Sebelum amal
terlaksana, tipu dayanya adalah enggan beramal dan niat yang salah yaitu ingin
dipuji amal-amalnya sebagai kebaikan. Ketika sedang beramal, cobaannya adalah
enggan menyempurnakan amal. Dan ketika selesai beramal, ada lagi cobaannya,
yaitu menjadi ujub, merasa diri paling beramal dan merasa diri lebih dari orang
lain. Semua ini benar-benar butuh perjuangan. Imam Ibnu Atailah menganjurkan
agar kita tawadhu dengan menanam di bumi kerendahan hati agar sempurna amal-amal
kita. Jika kita benar-benar ingin menikmati tawadhu, beberapa rahasianya
adalah, pertama : kita harus selalu sadar bahwa yang membuat kita beramal bukan
kita tapi taufik Allah. Kita bisa bersodaqoh, uangnya dari mana kalau tidak
dititipi rejeki dari Allah. Andai kita punya uang, tapi Allah tidak memberikan
jalan bagi kita karena orang-orang di sekitar kita tidak butuh, tidak akan
keluar itu uang. Setelah ada rejeki, oleh Allah digerakkan untuk bertemu dengan
orang yang perlu pembangunan masjid, ada yang perlu dilunasi hutang, itu Allah
yang mengatur. Setelah kita bisa bersodaqoh, diringankan hati kita. Kan ada yang
sodaqoh tapi hati jadi kesal. Oleh karena itu kita harus tahu rangkaian semua
amal ini hanya Allah-lah yang berbuat. Tidak usah diingat-ingat, tidak usah di
sebut-sebut amal kita karena Allah-lah sebetulnya yang membuat kita bisa beramal.
Seperti mutiara hikmah dari Syekh Ibrahim bin Asyam, "Tidak benar-benar
bertujuan kepada Allah siapa yang ingin masyhur atau terkenal." Bahkan Syekh
Ayyub Asy Syahtiani berkata, "Demi Allah, tiada seorang hamba yang
sungguh-sungguh ikhlas kepada Allah, melainkan ia merasa senang, gembira, jika
ia tidak mengetahui kedudukan dirinya."
Ciri-ciri kita
kurang ikhlas adalah, andaikata kita sudah merasa beramal. Apalagi kita merasa
ikhlas. Orang yang merasa ikhlas, dia ingin diketahui oleh orang lain
keikhlasannya, berarti belum ikhlas. Karena dia masih membutuhkan orang lain
agar tahu bahwa dirinya ikhlas dan dia senang ketika dia diketahui ikhlas.
Berarti dia belum ikhlas. Oleh karena itu orang-orang yang ingin menikmati
ketawadhuan, lupakan siapa diri kita. Kalau kita seorang sarjana, jangan
diingat-ingat kesarjanaan kita. Disisi Allah bukan kesarjanaan yang penting,
tapi amal yang ikhlas. Kalau kita seorang yang sudah pernah bersodaqoh sebanyak
apapun, lupakan! Kalau kita ingat-ingat, kita menjadi butuh diakui, butuh
ditulis, butuh disebut-sebut, itu bisa merusak. Inilah cara yang kedua, yakni
dengan melupakan jasa diri sendiri. Makin kita mengingat-ingat otoritas kita,
kedudukan kita, amal kita, makin kita ingat makin kita butuh diakui oleh makhluk,
makin tidak ikhlas. Sesuatu yang layak kita ingat agar kita tawadhu, adalah
ingat akan dosa-dosa kita. Berlatihlah untuk tawadhu dengan mengingat kekurangan
kita. Cara lainnya supaya kita tawadhu, sesudah yakin semua milik Allah dan
tidak mengingat kebaikan jasa diri sendiri, maka cara yang ketiga adalah tidak
melihat orang lain lebih rendah dari diri kita. Setiap melihat orang, cari titik
kelebihannya.
Ketika melihat
anak-anak, subhanallah mereka dosanya masih sedikit. Melihat ibunya, ingatlah
tetesan darah, keringat, pengorbanan dan air mata, mungkin inilah yang akan
mengangkat derajat seorang ibu walaupun amalnya masih terbatas. Melihat orang
yang lebih tua, subhanallah, bapak-bapak ini tentu amalnya lebih banyak dari
kita. Melihat orang yang baru belajar baca Quran, siapa tahu baru belajar tapi
lebih takut kepada Allah daripada perasaan takut kita kepada Allah. Melihat
pedagang kecil, siapa tahu dalam pandangan Allah dia mulia karena kejujurannya
walaupun dagangannya sederhana. Melihat seorang guru, mungkin dia mengajar
dengan ikhlas, sehingga boleh jadi muridnyalah yang kelak akan menjadi benteng
bagi agama dan bangsa ini. Pendek kata, ketika melihat orang lain, lihatlah
kelebihan dan kebaikannya. Makin senang melihat kelebihan dan jasa orang lain,
kita akan makin senang menghormat orang dan jauh dari kesombongan. InsyaAllah
makin tawadhu. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang memiliki puncak kemuliaan,
puncak kedudukan. Beliau adalah seorang nabi dan rasul terakhir. Beliau adalah
seorang pemimpin yang tangguh, tapi beliau adalah seorang yang sangat rendah
hati. Beliau menyapa dengan ramah dan lembut kepada siapa pun penuh dengan rasa
hormat. Tiada seorang pun yang berjumpa kepada beliau kecuali beliau menatap
dengan wajah penuh senyuman dan cerah bagai purnama. Subhanallah! Beliau tidak
membeda-bedakan tamu kaya dan miskin. Beliau menerima undangan walau hanya
makanan yang amat sederhana. Beliau berjalan dengan suka cita walaupun diundang
oleh sekedar hamba sahaya. Beliau tidak menjadi bangga dengan naik unta yang
bagus dan tidak pernah malu dan minder dengan menunggang keledai walaupun hanya
dibonceng. Di rumah nabi Muhammad yang amat sederhana, beliau menjahit sendiri
terompahnya, merapikan kamarnya, memeras susu tanpa ingin menjadi beban. Jikalau
beliau ke pasar, beliau lebih menyukai jika beliau membawa sendiri belanjaannya.
Jika beliau datang ke sebuah majelis, beliau tidak menyukai andaikata
orang-orang berdiri untuk menyambutnya. Beliau ingin diperlakukan sama. Jikalau
beliau berjalan, beliau tidak ingin dikawal agar kelihatan menjadi berwibawa.
Nabi Muhammad tidak mengharapkannya. Jika mau masuk ke sebuah masjid dan beliau
tidak kebagian tempat duduk, beliau tidak menginginkan duduk yang utama. Beliau
duduk di mana saja. Bahkan beliau jika menyapa seseorang berusaha mendahului
sapaannya. Menjawab dengan sempurna. Mengantar tamu sampai ke depan rumahnya.
Beliau adalah orang yang setiap siapapun yang berjumpa dengannya selalu merasa
puas akan sikapnya yang penuh kemuliaan dan rendah hati. Tidak ada jalan bagi
kesombongan untuk menjadi mulia. Kemuliaan, ketinggian hanyalah milik orang yang
tawadhu.
Semoga Allah
yang Maha Agung menjauhkan kita dari segala kesombongan yang amat hina dan
memalukan. Tidak ada contoh kesombongan kecuali kesombongan yang dicontohkan
oleh iblis yang akhirnya terkutuk. Oleh Firaun yang akhirnya terlaknat. Abu
Jahal dan Abu Lahab yang akhirnya menjadi orang yang dihinakan dunia wal akhirat.
Laa ilaaha illa
anta, subhaanaka innii kuntu minadz dzoolimiin.
Duhai yang Maha
Mendengar, ampuni jikalau selama ini kami termasuk amat sombong dalam
pandangan-Mu. Ampuni jikalau kami sering menbesar-besarkan diri kami dan
meremehkan keagungan-Mu. Ampuni jika kami sering mendustakan kebenaranMu. Ampuni
jikalau kami meremehkan agama-Mu ya Allah. Ampuni jikalau Engkau saksikan kami
enggan menerima nasehat.
Saudara-saudaraku, alangkah indahnya jikalau kita termasuk orang yang ditatap
oleh Allah. Apa yang harus kita sombongkan pada diri kita? Mudah-mudahan
kerendahan hati kita memacu amal kebajikan yang kita lakukan. Menjadi amal yang
diterima oleh Allah dan memperkokoh kehidupan kita. Selamat menikmati hidup
dengan rendah hati. ***
--------------------------------------------------------------------------------
Rangkuman Kajian
Kitab Al-Hikam TRANS TV, tanggal 7 Ramadhan 1423 H/12 November 2002
 |